Menanggung Derita Bersama Sang Bunda

Renungan Harian Misioner
Rabu, 15 September 2021
SP. Maria Berdukacita

Ibr. 5: 7-9; Mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16, 20; Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35

Hari ini Gereja merayakan peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita. Dengan perayaan ini Gereja ingin mengenang segala bentuk dukacita yang dialami oleh Santa Perawan Maria sepanjang hidupnya. Kalau kita menggunakan bacaan khusus (bukan bacaan harian), kita temukan kisah di mana Maria dan Yusuf membawa bayi Yesus ke Bait Allah. Di sana mereka diterima oleh Simeon. Setelah Simeon memberkati mereka, ia berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk .2:34-35). Kata-kata Simeon yang ditujukan kepada Maria, “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”, menjadi suatu kenyataan di sepanjang hidup Maria.

Dalam tradisi Gereja Katolik dikenal tujuh duka Bunda Maria. Duka pertama dialami Maria ketika ia membawa bayi Yesus ke Bait Allah seperti kita baca dalam bacaan khusus hari ini. Duka kedua, terjadi saat Maria dan Yusuf harus membawa Anak mereka ke Mesir (Mat. 2:13). Duka ketiga terjadi saat Yesus tertinggal di Bait Allah ketika mereka berziarah ke Yerusalem (Luk. 2:43–45). Duka keempat dialami Maria ketika ia melihat Yesus Puteranya memanggul salib ke Golgota. Di puncak Golgota, Maria menyaksikan sendiri Puteranya wafat di kayu salib (Yoh. 19:25). Inilah duka kelima. Duka yang menyusul adalah saat Maria menyaksikan lambung Puteranya ditikam dengan tombak (Mat. 27:57-59). Dan duka terakhir adalah ketika Maria menyaksikan Puteranya dimakamkan (Yoh. 19: 40-42).

Penderitaan-penderitaan yang dialami Maria adalah konsekuensi dari jawaban “ya” yang ia berikan kepada Allah saat ia ditawari oleh Allah melalui Malaikat Gabriel untuk mengandung Yesus, Anak Allah (Luk. 1:38). Maria bukan hanya mau menerima hal-hal yang menyenangkan yang mengalir dari perannya sebagai Bunda Yesus. Ia juga bersedia menerima dengan tenang penderitaan yang datang kepadanya.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Bunda Maria yang Berdukacita? Seperti Bunda Maria, kita juga pernah memberikan jawaban “ya” saat kita mau dibaptis. Sebelum dibaptis, para calon baptis ditanya apakah ia mau sungguh-sungguh mengabdi Allah dan menolak segala bujukan setan. Baru setelah mendapatkan jawaban “ya”, maka imam membaptis si calon baptis ini. Pada saat kita dibaptis, kita bersukacita, keluarga besar juga bergembira. Jawaban “ya” juga pernah diucapkan oleh calon pengantin ketika mereka mau menerima sakramen perkawinan. “Ya” untuk setia dalam untung dan malang. Jawaban “ya” juga diucapkan oleh para imam sebelum tahbisan atau para suster/bruder sebelum mengucapkan kaul kekal. Mereka menjawab “ya” untuk setia pada Yesus sampai mati. Pada saat kita memberikan jawaban “ya” pada peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas, kita merasakan sukacita yang besar. Untuk mengungkapkan sukacita itu, tak jarang diadakan juga pesta yang melibatkan banyak orang. Namun, rupanya bukan hanya sukacita yang menyertai peristiwa-peristiwa itu melainkan ada juga penderitaaan. Pada saat kita mengalami penderitaan inilah, kita perlu belajar kepada Bunda Maria yang Berdukacita. Bunda Maria tidak melarikan diri dari penderitaan, melainkan ia merangkulnya dengan tenang. Ia “menyimpan” segala peristiwa duka yang dialaminya dan mohon kekuatan dari Allah. Inilah kunci keberhasilan Maria dalam menanggung semua penderitaannya. Mari kita belajar dari padanya!

(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Tangerang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gaya hidup yang ramah lingkungan: Kita berdoa agar kita semua bisa membuat keputusan yang berani untuk gaya hidup yang sederhana dan ramah lingkungan, bersukacita bersama orang muda kita yang dengan tegas berkomitmen dengan hal ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Mereka yang tertekan masalah ekonomi: Semoga mereka yang tertekan oleh masalah ekonomi bisa menemukan usaha-usaha baru yang bisa menjadi sumber nafkahnya. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah mengarahkan sejarah hidup kami seperti sejarah hidup Santo Yoseph, yang Kau bimbing menyatu dengan para Leluhurnya, sebagaimana nampak dalam Alkitab. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s