Misi: Menyalakan Pelita dalam Kehidupan

Hari ke-19
Selasa, 19 Oktober 2021
Peringatan : S. Paulus dari Salib, S. Yohanes de Brébeuf dan Isaac Jogues

Bacaan : Rm. 5:12, 15b, 17-19, 20b-21
Injil : Luk. 12:35-38

Misi: Menyalakan Pelita dalam Kehidupan

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.”
(Luk. 12:35)

Surat Apostolik Patris Corde: Para orang kudus membantu semua umat beriman untuk “mengejar kesucian dan kesempurnaan status hidup mereka.” Hidup mereka adalah bukti nyata bahwa menghidupi Injil itu mungkin.

Kesiapan seorang hamba yang baik disimbolkan Yesus dengan dua tanda, yaitu: “pinggang tetap berikat” dan “pelita tetap menyala”. Zaman dahulu perempuan maupun laki-laki memakai jubah sebagai busana sehari-hari. Hamba pun demikian. Yang membedakan adalah kualitas bahan dan keindahan jubah. Seorang saudagar kaya raya atau seorang pemuka agama jelas akan mengenakan jubah halus, indah dan terbuat dari bahan mahal. Sementara seorang hamba akan mengenakan jubah biasa atau jelek dari bahan kain yang kasar dan murah harganya.

Ketika seorang hamba akan bekerja, pinggangnya selalu berikat. Pinggang berikat adalah tanda “kesiapan”. Ikat itu bukan sekadar atribut atau aksesoris dalam berbusana. Ikat di pinggang dimaksudkan untuk mengikat jubah sehingga dapat leluasa bergerak. Dan ikat itu selain merupakan sebuat alat sekaligus juga simbol bahwa si individu dalam keadaan terjaga – siaga – siap untuk bergerak menjalankan tugasnya.

Pelita yang menyala menandakan bahwa situasi sekitar masih terang benderang atau hidup. Di mana ada kehidupan, di situ ada kesiapsiagaan, ada pergerakan, dan bukan merupakan momen untuk beristirahat (lengah) maupun berdiam diri. Pada umumnya ketika seseorang akan tidur dan beristirahat, pelita dan lampu akan dipadamkan. Orang akan lebih mudah tertidur dalam keadaan gelap. Secara ilmiah dijelaskan bahwa pada kondisi gelap hormon melatonin di dalam tubuh akan meningkat. Melatonin kemudian menyampaikan pesan pada otak, menyuruh tubuh agar segera tertidur.

Pelita juga dapat menjadi simbol terang kehidupan. Seseorang yang menjaga pelitanya tetap menyala, berarti terus-menerus menjaga terang bernyala dalam kehidupannya. Dengan berjalan di bawah terang itu, ia tak akan tersesat dalam kegelapan.

Yesus menasihati para murid-Nya termasuk kita semua, untuk belajar menjadi hamba yang senantiasa berjaga-jaga, Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” (Luk. 12:35). Kita tak boleh terlena dan jatuh dalam kehidupan yang menawarkan banyak godaan duniawi: kenikmatan, kesenangan, kekuasaan, kekayaan, popularitas, dll. Kita harus tetap mengingat panggilan kita sebagai orang Kristiani, yaitu menjadi hamba-hamba yang selalu siap sedia melayani Sang Tuan.

Seperti perumpamaan yang dikisahkan Penginjil Lukas, Tuhan menugaskan kita untuk tinggal di dunia saat Ia pergi sementara, layaknya sang tuan yang pergi ke perkawinan. Di dalam dunia ini kita tahu tugas kita dan harus tetap bekerja sambil menanti Sang Tuan pulang. Sang Tuan bisa datang sewaktu-waktu dan mengetok pintu.

Analogi ini mengibaratkan saat kematian atau akhir kehidupan yang bisa datang kapan saja. Jika kita selalu dan tetap sibuk dengan segala urusan duniawi yang kita anggap lebih penting dibandingkan urusan dengan Tuhan sendiri, maka mungkin saja kita menjadi lengah, sedang tertidur ketika Ia datang mengetok pintu kehidupan kita. Kita terlelap dengan pinggang yang tak berikat dan pelita yang padam, pulas dalam kegelapan.

Untuk menjaga pelita dapat terus bernyala, kita harus menghidupi Injil sebagai sumber terang utama di dalam kehidupan. Injil bukan sekadar cerita atau sejarah yang cukup dibaca satu kali, tapi Injil dijadikan inspirasi dan kekuatan, yang harus terus-menerus dihidupi dalam keseharian kita. Sehingga pada akhirnya nanti Injil itu menghantar kita pada kesucian dan kesempurnaan hidup sebagai hamba-hamba Tuhan yang baik. Dan akhirnya pada momen itu, ketika Dia datang mengetok, kita akan siap membuka pintu, menyambut Tuhan dan menikmati perjamuan abadi dengan-Nya (bdk. Luk. 12:37).

Misi: Panggilan  Kristiani mengajak kita untuk selalu siap sedia, pelita tetap menyala dan menghidupi Injil yang menjadi sumber utama sebagai terang kehidupan. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Rasul-rasul misionaris: Kita berdoa agar setiap orang yang dibaptis terlibat dalam pewartaan Injil, menyediakan diri untuk menjalankan misi, dengan siap menjadi saksi yang menghidupi semangat Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Air bersih: Semoga kita semua makin bijaksana dalam menggunakan air bersih. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berilah kami keterbukaan hati, seperti Santo Yoseph, sehingga mengasihi Bunda Maria dan Sang Putera demi terlaksananya “missio”/pengutusan memulihkan cintakasih manusia menjawab belaskasih Bapa. Kami mohon…

Amin

DOA ROSARIO MISIONER

PERISTIWA SEDIH

  1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut
    “Ya, Bapa, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah menurut kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.” (Mat. 26:39)

Intensi doa untuk Benua Asia (butiran manik warna kuning)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi diri kami, umat-Mu di Benua Asia, yang mengalami berbagai permasalahan dalam situasi pandemi saat ini. Banyak yang jatuh dalam kesedihan, putus asa, dan tak mampu menghadapi kehilangan baik kehilangan mata pencaharian, materi maupun orang yang dikasihi. Seperti halnya Yesus mau berpasrah dan berdoa pada-Mu dalam sakratul maut, berikanlah rahmat iman dan penyerahan diri pada setiap orang di benua kami. Mampukanlah kami menyadari bahwa di masa-masa pencobaan seperti ini, kami harus ingat untuk berserah pada-Mu dan tetap tekun dalam doa, agar pengharapan dan iman kami tetap teguh dan terjaga. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus didera
    “Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia, mereka menanggalkan jubah ungu yang dipakai-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya.” (Mrk. 15:19-20a)

Intensi doa untuk Benua Australia & Oceania (butiran manik warna biru)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Oceania-Australia. Semoga mereka yang mengalami penganiayaan karena iman kepada-Mu, Engkau beri kekuatan dan penghiburan. Dalam masa penderitaan-Nya, ketika Yesus didera, diolok, diludahi, dipukul, bahkan ditelanjangi, Ia diam, tak membalas kejahatan dengan kejahatan, karena besarnya kasih yang Ia miliki di dalam diri-Nya. Semoga teladan ini dapat diikuti oleh setiap orang yang mengalami penderitaan dan ketidakadilan dari sesama mereka. Dan semoga setiap manusia Engkau rahmati dengan hati yang penuh belas kasih, sehingga dapat memperlakukan sesama dengan kasih, penghormatan dan keadilan. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus dimahkotai duri
    “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya katanya, “Salam, hai raja orang Yahudi!” (Mrk. 15:17-18)

Intensi doa untuk Benua Eropa (butiran manik warna putih)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Eropa. Seringkali penderitaan dan peristiwa-peristiwa traumatis menjadi halangan iman bagi manusia untuk dapat tetap percaya bahwa Engkau selalu ada menyertai diri dan hidup mereka. Yesus, Anak-Mu, juga tak lepas dari penderitaan yang diakibatkan oleh manusia, meskipun Ia memiliki status sebagai Anak Raja. Belajar dari-Nya semoga umat di Benua Eropa juga Engkau mampukan bertahan melewati penderitaan hidup dan peristiwa-peristiwa traumatis yang mungkin harus mereka alami, sambil tetap teguh beriman, percaya bahwa tak sekali pun Engkau akan meninggalkan umat-Mu sendirian. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Golgota
    “Sambil memikul salib-Nya, Ia pergi keluar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota.” (Yoh. 19:16b)

Intensi doa untuk Benua Amerika (butiran manik warna merah)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Amerika. Semoga mereka mampu untuk setia memanggul salib kehidupan di tengah arus dunia ini. Salib seringkali ditolak dan dihindari. Kami manusia cenderung hanya menginginkan kebahagiaan, kesejahteraan dan keabadian, bukan penderitaan, kesulitan dan kematian. Yesus sendiri memanggul salib-Nya dengan taat dan setia karena Ia percaya dan menerima semua kehendak-Mu. Semoga umat di Benua Amerika yang mengimani Kristus juga siap menghadapi salib, penderitaan dan kematian. Menerima salib sebagai bagian yang tak terpisahkan dari jatidiri sebagai umat Kristiani. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus wafat di salib
    “Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.” (Luk. 23:46)

Intensi doa untuk Benua Afrika (butiran manik warna hijau)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Afrika. Akhir-akhir ini banyak kematian terjadi diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Kematian seringkali dilihat bukan hanya sekadar sebagai kehilangan namun juga sebagai peristiwa buruk. Manusia kerap memeluk kehidupan dan segala isinya dengan terlalu kuat, sehingga menjadi gagap ketika tiba waktunya untuk melepaskan dan mengembalikannya kepada-Mu, Sang Pemilik Kehidupan. Semoga Engkau memampukan umat-Mu di Benua Afrika terutama mereka yang mengalami kematian orang terdekat, agar mampu menerima kematian dan mengingat bahwa kehidupan kekal yang Engkau janjikan bukan lah di dunia ini, melainkan di surga nanti. Karena kami percaya dengan kematian hidup bukan dilenyapkan namun hanya diubah. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s