Misi: Menyelamatkan, Bukan Menghabisi

Hari ke-29
Jumat, 29 Oktober 2021
Peringatan : B. Michaelis Rua

Bacaan : Rm. 9:1-5
Injil : Luk. 14:1-6

Misi: Menyelamatkan, Bukan Menghabisi

“Kemudian Ia berkata kepada mereka: ‘Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?’”
(Luk. 14:5)

Surat Apostolik Patris Corde: Seperti dilakukan Tuhan kepada Israel, demikian juga Yusuf “mengajar-Nya berjalan, dengan memegang-Nya dengan tangannya: Bagi-Nya ia seperti seorang ayah yang mengangkat seorang anak ke pipinya, dengan membungkuk kepada-Nya untuk memberi-Nya makan” (bdk. Hos.11:3-4).   

Pandangan, sikap dan tindakan Yesus memang sering berbeda dari orang kebanyakan, bahkan dari para pemimpin agama dan ahli Taurat. Penginjil Lukas mengisahkan peristiwa Yesus sedang berada di rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi kenal siapa Yesus. Mereka telah sering mendengar berita tentang Yesus yang terkadang kontroversial!  Hal itu membuat mereka sering mengamat-amati-Nya, bahkan mengincar-Nya. Tapi si Anak Manusia tak perrnah takut atau mundur. Sebaliknya tanpa ragu atau gentar, Ia selalu maju menantang mereka, untuk meluruskan apa yang keliru mengenai hukum dan Allah. Inilah pesan pertama yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita, jangan takut mengatakan kebenaran, meskipun ada konsekuensi bahkan ancaman yang menanti.

Hari Sabat hampir selalu menjadi topik perdebatan antara Yesus dan para Ahli Taurat serta orang Farisi. Mereka membenci Yesus karena Yesus seenaknya melanggar dan merusak hukum yang telah kaum Yahudi jalankan dan taati sejak dahulu kala. Sementara bagi Yesus, mereka hanya berpusat dan berfokus pada pelaksanaan hukum secara kaku. Mereka tidak benar-benar memahami makna hari Sabat, dan tidak mampu mengaplikasikan ‘Hari untuk Tuhan’ itu dengan benar-benar memuliakan nama Tuhan melalui perbuatan baik kepada sesama, terutama yang butuh pertolongan. Itu yang Yesus cela, itu yang dikecam-Nya.

“Diperbolehkan menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Pertanyaan Yesus adalah sebuah pertanyaan yang memaksa kita untuk benar-benar harus berefleksi. Allah kita adalah “Merciful GOD” – Allah Penyayang – Allah Belas Kasih. Jelas kita anak-anak-Nya yang mengambil citra diri-Nya harus juga memiliki sikap penyayang dan mampu berbelas kasih. Dalam tindakan menyembuhkan tentu ada belas kasih dan cinta yang diberikan kepada si sakit. Berarti seharusnya menyembuhkan itu diperbolehkan, bahkan di hari Sabat sekalipun. Tapi bagi orang Farisi, aturan hari Sabat itu jelas, jangan diganggu gugat lagi, setiap orang tidak boleh melakukan hal lain selain berdoa! Hari Sabat adalah Hari untuk Tuhan. Dan karena dikhususkan untuk Tuhan semata, maka hal lain harus diabaikan, termasuk sesama yang sedang menderita.  

Kita juga mungkin pernah atau sering bersikap seperti orang Farisi. Memegang teguh aturan dan hukum, namun mengabaikan belas kasih dan kemanusiaan. Sibuk berkoar-koar tentang kebenaran hukum Tuhan dan Gereja, namun lupa bahwa Allah dan Tuhan yang kita imani dan sembah adalah Allah Belas Kasih dan Tuhan Penyelamat. Sering kali mereka yang merasa paling tahu tentang hukum Tuhan dan aturan Gereja, minus semangat “penyelamatan”, dan tanpa sadar malah menyimpan ambisi untuk membinasakan pihak-pihak yang dianggap melanggar atau salah. Bagi mereka, yang utama adalah penegakan hukum dan aturan. Seperti halnya para Ahli Taurat dan orang Farisi, saat melihat Yesus mengajar, bukannya memperhatikan isi pengajaran Yesus, mereka malah sibuk menanti-nantikan kesalahan-Nya dan bersiasat mengenai apa yang harus mereka perbuat untuk menghukum Yesus.

“Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” (Luk. 14:5). Pertanyaan retorik Yesus adalah pesan kedua Tuhan mengenai bagaimana seharusnya belas kasih dan cinta menjadi keutamaan, bahkan di atas hukum dan aturan apapun. Belas kasih dan cinta harus kita tegakkan dalam kehidupan, menyadari penuh bahwa pada situasi apapun Tuhan ingin kita menyelamatkan, bukan menghabisi. (BIL)

Misi: Menjadi pribadi yang penuh kasih, peka dengan situasi menjadi sebuah keutamaan. Kita belajar untuk lebih berbelas kasih dari pada mengutamakan hukum. Menyelamatkan dalam tindakan sehari-hari.

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Rasul-rasul misionaris: Kita berdoa agar setiap orang yang dibaptis terlibat dalam pewartaan Injil, menyediakan diri untuk menjalankan misi, dengan siap menjadi saksi yang menghidupi semangat Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Air bersih: Semoga kita semua makin bijaksana dalam menggunakan air bersih. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berilah kami keterbukaan hati, seperti Santo Yoseph, sehingga mengasihi Bunda Maria dan Sang Putera demi terlaksananya “missio”/pengutusan memulihkan cintakasih manusia menjawab belaskasih Bapa. Kami mohon…

Amin

DOA ROSARIO MISIONER

PERISTIWA SEDIH

  1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut
    “Ya, Bapa, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah menurut kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.” (Mat. 26:39)

Intensi doa untuk Benua Asia (butiran manik warna kuning)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi diri kami, umat-Mu di Benua Asia, yang mengalami berbagai permasalahan dalam situasi pandemi saat ini. Banyak yang jatuh dalam kesedihan, putus asa, dan tak mampu menghadapi kehilangan baik kehilangan mata pencaharian, materi maupun orang yang dikasihi. Seperti halnya Yesus mau berpasrah dan berdoa pada-Mu dalam sakratul maut, berikanlah rahmat iman dan penyerahan diri pada setiap orang di benua kami. Mampukanlah kami menyadari bahwa di masa-masa pencobaan seperti ini, kami harus ingat untuk berserah pada-Mu dan tetap tekun dalam doa, agar pengharapan dan iman kami tetap teguh dan terjaga. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus didera
    “Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia, mereka menanggalkan jubah ungu yang dipakai-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya.” (Mrk. 15:19-20a)

Intensi doa untuk Benua Australia & Oceania (butiran manik warna biru)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Oceania-Australia. Semoga mereka yang mengalami penganiayaan karena iman kepada-Mu, Engkau beri kekuatan dan penghiburan. Dalam masa penderitaan-Nya, ketika Yesus didera, diolok, diludahi, dipukul, bahkan ditelanjangi, Ia diam, tak membalas kejahatan dengan kejahatan, karena besarnya kasih yang Ia miliki di dalam diri-Nya. Semoga teladan ini dapat diikuti oleh setiap orang yang mengalami penderitaan dan ketidakadilan dari sesama mereka. Dan semoga setiap manusia Engkau rahmati dengan hati yang penuh belas kasih, sehingga dapat memperlakukan sesama dengan kasih, penghormatan dan keadilan. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus dimahkotai duri
    “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya katanya, “Salam, hai raja orang Yahudi!” (Mrk. 15:17-18)

Intensi doa untuk Benua Eropa (butiran manik warna putih)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Eropa. Seringkali penderitaan dan peristiwa-peristiwa traumatis menjadi halangan iman bagi manusia untuk dapat tetap percaya bahwa Engkau selalu ada menyertai diri dan hidup mereka. Yesus, Anak-Mu, juga tak lepas dari penderitaan yang diakibatkan oleh manusia, meskipun Ia memiliki status sebagai Anak Raja. Belajar dari-Nya semoga umat di Benua Eropa juga Engkau mampukan bertahan melewati penderitaan hidup dan peristiwa-peristiwa traumatis yang mungkin harus mereka alami, sambil tetap teguh beriman, percaya bahwa tak sekali pun Engkau akan meninggalkan umat-Mu sendirian. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Golgota
    “Sambil memikul salib-Nya, Ia pergi keluar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota.” (Yoh. 19:16b)

Intensi doa untuk Benua Amerika (butiran manik warna merah)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Amerika. Semoga mereka mampu untuk setia memanggul salib kehidupan di tengah arus dunia ini. Salib seringkali ditolak dan dihindari. Kami manusia cenderung hanya menginginkan kebahagiaan, kesejahteraan dan keabadian, bukan penderitaan, kesulitan dan kematian. Yesus sendiri memanggul salib-Nya dengan taat dan setia karena Ia percaya dan menerima semua kehendak-Mu. Semoga umat di Benua Amerika yang mengimani Kristus juga siap menghadapi salib, penderitaan dan kematian. Menerima salib sebagai bagian yang tak terpisahkan dari jatidiri sebagai umat Kristiani. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus wafat di salib
    “Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.” (Luk. 23:46)

Intensi doa untuk Benua Afrika (butiran manik warna hijau)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Afrika. Akhir-akhir ini banyak kematian terjadi diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Kematian seringkali dilihat bukan hanya sekadar sebagai kehilangan namun juga sebagai peristiwa buruk. Manusia kerap memeluk kehidupan dan segala isinya dengan terlalu kuat, sehingga menjadi gagap ketika tiba waktunya untuk melepaskan dan mengembalikannya kepada-Mu, Sang Pemilik Kehidupan. Semoga Engkau memampukan umat-Mu di Benua Afrika terutama mereka yang mengalami kematian orang terdekat, agar mampu menerima kematian dan mengingat bahwa kehidupan kekal yang Engkau janjikan bukan lah di dunia ini, melainkan di surga nanti. Karena kami percaya dengan kematian hidup bukan dilenyapkan namun hanya diubah. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s