Berilah: Suatu Takaran Yang Baik!

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan II Prapaskah, 14 Maret 2022
P. S. Matilda

Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38

Ajaran Yesus yang pertama kepada murid-murid-Nya dalam bacaan Injil hari ini adalah “Hendaknya kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati..” (Luk. 6:36). Frase penting dalam ajaran ini adalah murah hati. Apa sesungguhnya arti dari murah hati ini? Dalam kamus Bahasa Indonesia, murah hati diartikan sebagai suka (mudah) memberi; tidak pelit; penyayang dan pengasih; suka menolong; baik hati. Sepintas, dalam pikiran kita biasanya murah hati identik dengan suka memberi, suka menolong dan tidak pelit. Tetapi lebih daripada itu hati yang murah dalam arti yang lebih dalam juga adalah penyayang dan pengasih. Maka di sini, kita perlu memperluas arti dari murah hati sebelum memahami ajaran Yesus dalam perikop selanjutnya.

Menjadi murah hati tidak terbatas pada kerelaan dan keikhlasan berbagi harta milik pribadi namun tercermin dalam sikap mudah mengasihi, mudah menyayangi, mudah mengampuni, dan saling menerima perbedaan. Jika standar ini mampu kita jalani, bukan tidak mungkin kita tidak akan mudah untuk cepat menghakimi saudara kita, mengkritik dengan pedas, bahkan melakukan fitnah yang kejam kepada saudara kita sendiri. Seperti yang Yesus katakan dalam ajaran selanjutnya, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi, Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk. 6:37). Memang kita tidak dapat menutup mata dengan kesalahan dari saudara kita. Yesuspun mengarakan kepada kita, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata…” (Mat. 18:15). Persoalan yang banyak terjadi saat ini, misalnya di media sosial, dengan mudahnya seorang terhadap yang lain saling menghujat, mempersalahkan dan saling mempermalukan di depan umum. Orang-orang dengan santainya menghakimi dengan kemarahan. Bagaimanapun menghakimi seperti ini jauh dari sifat murah hati.

Pada ayat selanjutnya, Yesus mengatakan, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu…” (Luk. 6:38). Murah hati sangat identik dengan memberi. Memberi bukan hanya dalam artian memberi harta milik tetapi juga memberi waktu kita untuk mendengarkan orang lain, memberi tenaga kita untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, memberi perhatian dan dukungan moral kita pada mereka yang dikucilkan di masyarakat dan sebagainya. Dalam bahasa Latin, kemurahan hati berarti Humilitate. Kata ini berasal dari akar kata “Humus” yang artinya tanah yang subur. Sebagaimana tanah yang subur akan selalu memberi kehidupan bagi banyaknya tanaman. Dengan selalu memberi apa yang ada dalam diri dan kehidupan kita, sesungguhnya kita telah menjadi tanah yang subur yang selalu menjadi tempat bertumbuh dan berkembangnya suatu harapan, sukacita, kedamaian dan kebahagiaan juga bagi orang yang ada di sekitar kita.

Di Masa prapaskah ini, kita akan selalu merenungkan Allah yang murah hati. Bagaimanapun beratnya dosa kita, atau bagaimanapun besarnya ketidaksetiaan kita kepada Allah, namun Allah akan tetap setia memberikan kasih-Nya kepada manusia sebab Ia adalah Allah yang murah hati. Dengan belajar menjadi murah hati, kita belajar untuk mudah mengampuni, mampu untuk memberi dan kita akan dihindarkan dari kebiasaan menghakimi dan saling menghukum.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Menghadapi tantangan bioetika

Kita berdoa untuk umat Kristiani yang menghadapi tantangan bioetika baru; semoga mereka dapat terus membela martabat segenap umat manusia dengan doa dan tindakan.

Ujud Gereja Indonesia: Pengabdian politik

Kita berdoa, semoga di alam demokrasi ini para elit politik dan pemerintah menggunakan kewenangannya untuk mengabdi dan menata masyarakat dan bukan untuk menguasainya.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s