Jika Kita Bersatu dengan YESUS

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan II Prapaskah, 18 Maret 2022
S. Sirillus dr Yerusalem

Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 21:33-43,45-46

Perumpamaan mengenai para penggarap kebun anggur yang tidak jujur dan kejam menggambarkan penolakan Anak Allah oleh para pemimpin Israel. Kisah ini menggemakan Yesaya 5, tetapi mempunyai akhir yang baru. Dalam Yesaya 5, Yahweh memutuskan untuk menghancurkan kebun anggur setelah kekecewaan karena Israel. Kebun anggur yang dirawat secara baik, ternyata hanya menghasilkan anggur masam. Dalam perumpamaan Yesus, para penggarap dihancurkan, sementara kebun anggur dipercayakan kepada penggarap lain. Perumpamaan ini lebih bersifat alegoris dan lebih kristologis. Setiap unsur cerita mempunyai makna sendiri-sendiri: tuan tanah ialah Allah; kebun anggur tidak lain kecuali bangsa terpilih, yakni Israel; para penggarap ialah pimpinan Yahudi yang ditetapkan oleh Allah sebagai pekerja di kebun anggur; para hamba ialah para nabi yang ditolak oleh para pemimpin Yahudi; anak yang dibunuh ialah Yesus sendiri; penggarap-penggarap lain yang menyewa kebun anggur itu adalah bangsa-bangsa lain (orang kafir).

Perumpamaan ini bersifat kristologis, artinya menonjolkan Yesus sebagai Anak Allah yang ditolak dan dibunuh oleh para pemuka Israel. Rangkaian tindakan kejam para penggarap kebun anggur terhadap anak tuan kebun anggur yang terdapat dalam ay. 39: “Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya”, sesuai dengan penggambaran dari rincian sengsara Yesus. Yesus ditangkap (Mat. 26:50), dibawa keluar batas kota (Mat. 27:31-32), dan kemudian dibunuh (Mat. 27:35). Rencana jahat para penggarap kebun anggur itu sejajar dengan rencana para imam kepala dan kaum Farisi terhadap Yesus (Mat. 21:26; 22:15).

Berhadapan dengan para imam kepala dan kaum Farisi yang menolak-Nya, Yesus mengingatkan mereka akan apa yang tertulis dalam kitab Mazmur: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm. 118:22). Menurut kutipan dari kitab Mazmur ini, para tukang membuang batu yang paling penting dalam pembangunan Bait Suci.  Hal yang sama menimpa Yesus: Ia dibuang oleh bangsa Israel, padahal Dialah bagian yang terpenting dari tempat kediaman Allah di tengah-tengah umat-Nya. Para pemimpin Israel memandang Yesus “tidak bernilai” bagi bangsanya. Yesus yang “dibuang”(dibunuh) justru menjadi batu sendi Kerajaan Allah yang mereka harapkan. Namun, mereka terancam tidak masuk ke dalamnya sebab mereka tidak percaya, sedangkan bangsa-bangsa kafir akan percaya dan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus juga memberi peringatan kepada para pemimpin Israel yang tidak menghasilkan buah Kerajaan Allah: “Kerajaan Allah akan diambil dari kamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat. 21:43). Israel diistimewakan oleh Allah sebab Allah sendiri menjadi raja mereka, tetapi hak itu akan diambil daripadanya dan diserahkan kepada umat yang menerima Yesus.

Apa makna bacaan Injil hari ini bagi kita? Pertama, isi utama perumpamaan mengenai para penggarap kebun anggur merupakan suatu peringatan keras bagi umat yang mengikuti Yesus. Yesus memberitakan rencana Allah, tetapi para pendengar-Nya tidak mempedulikan-Nya, sehingga akhirnya mereka tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Nasib seperti ini dapat menimpa setiap orang Kristiani, termasuk kita, jika kita bersikap dan berlaku seperti sebagian orang-orang Yahudi yang hidup sezaman dengan Yesus.

Kedua,kita diingatkan supaya tidak seperti para pemimpin Israel yang memandang Yesus “tidak bernilai” bagi bangsanya. Memandang Yesus sebagai pribadi yang “tidak bernilai” dengan sendirinya berarti menolak Yesus dan menjauh dari Yesus. Ketika kita menjauhkan diri dari Yesus, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa dan tidak menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah. Yesus berkata: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Alasan Allah mendirikan kerajaan-Nya dan mempercayakan kerajaan-Nya kepada kita adalah untuk mendapatkan buah-buah rohani dalam diri kita, yaitu kebenaran, damai dan sukacita. Hidup kita akan menghasilkan buah-buah rohani jika kita tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita.

Ketiga, dalam melaksanakan pekerjaan kita sebagai penggarap kebun anggur Allah di dunia ini, kita mungkin akan mengalami berbagai cobaan dan penganiayaan sebagaimana yang dialami oleh Yesus, tetapi kita hendaknya percaya bahwa pada akhirnya kita akan menyaksikan dan mengalami kemenangan. Rasul Paulus meyakinkan kita bahwa jerih payah kita dalam pekerjaan Tuhan tidak sia-sia: Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1Kor. 15:58). Marilah kita senantiasa menerima Yesus beserta kehendak-Nya, mempersatukan diri dengan Yesus sebagai batu penjuru Kerajaan Allah serta bertekun dalam pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita agar hidup kita menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah demi keselamatan dan kesejahteraan sesama.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Menghadapi tantangan bioetika

Kita berdoa untuk umat Kristiani yang menghadapi tantangan bioetika baru; semoga mereka dapat terus membela martabat segenap umat manusia dengan doa dan tindakan.

Ujud Gereja Indonesia: Pengabdian politik

Kita berdoa, semoga di alam demokrasi ini para elit politik dan pemerintah menggunakan kewenangannya untuk mengabdi dan menata masyarakat dan bukan untuk menguasainya.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s