Hadirkan Perbuatan Baik Untuk Menyelamatkan

Renungan Harian Misioner
Senin Biasa XXIII, 05 September 2022
P. S. Teresa dr Kalkuta

1Kor. 5:1-8; Mzm. 5:5-6,7,12; Luk. 6:6-11

Misi: Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk berani mengedepankan kebaikan dan perbuatan kasih demi keselamatan dan kebahagiaan sesama yang sangat membutuhkan pertolongan kita. Kita tidak dipanggil untuk mempertahankan ritual-ritual iman kita, melainkan untuk menyatakan bahwa Kristus yang kita imani adalah Sumber dan Tujuan semua kekuatan kasih dan alasan segala jenis ritual iman kita.

Para sahabat misioner yang terkasih dalam Kristus. Desiran Sabda Tuhan yang begitu lembut, menyapa kita hari ini agar kita mampu memperjuangkan kebaikan, kasih dan kekudusan. Rasul Paulus mendesak jemaat Korintus agar berjuang untuk melepaskan ragi lama, menghentikan kesombongan, kepalsuan diri, lalu menjadi adonan baru yakni kerendahan hati, kekudusan dan  kesucian. Rasul Paulus menegaskan agar jemaat Korintus membiarkan diri dirasuki kuasa dan Roh Kristus, sehingga menjadi jemaat yang penuh kekudusan, sukacita dan kebahagiaan.

Sementara Injil hari ini, melanjutkan kisah perseteruan antara kaum Farisi dengan Yesus. Kaum Farisi terus mencari momen untuk menyalahkan Yesus serta mengakselerasi suhu perseteruan. “Kesakralan”  Hari Sabat selalu menjadi argumen “ampuh” untuk menyerang Yesus. Namun, Yesus begitu tenang menghadapi kaum Farisi dengan tetap mengutamakan perbuatan baik dan kasih. Yesus mengingatkan bahwa muatan dan kekuatan hari Sabat adalah kasih dan kebaikan, maka hari Sabat merupakan kesempatan untuk menyelamatkan orang bukan untuk mengamankan semua ritual-ritual yang berlaku.

Yesus mengingatkan bahwa salah satu ritual Sabat yang tidak dipedulikan orang Farisi adalah mengulurkan tangan untuk membantu sesama, bahkan mengulurkan tangan untuk disembuhkan dari kemunafikan dan kesombongan, membiarkan orang lain berdiri dan berjalan meninggalkan penderitaan dan kesulitan hidup.

Sesama sahabat misioner yang terkasih. Dunia kita sedang dilanda banjir dan badai kesombongan, kemerosotan moral, susut nurani yang tulus, tersobek dandanan kesucian dan kekudusan hidup. Maka tidak heran jika planet kita ini sedang dihuni banyak komunitas “neo dan now farisi”. Seruan Rasul Paulus bukan lagi berhenti pada komunitas Korintus, teguran Yesus bukan saja ditujukan pada kalangan farisi di kala itu.   

Rasul Paulus mengajak kita sebagai pengikut Kristus untuk belajar rendah hati, berjuang menyucikan pikiran, nurani, dan tutur lisan kita sehingga perilaku kita memantulkan kesucian dan kekudusan anak-anak Allah.

Kita diminta untuk menanggalkan mantol kesombongan, melepaskan busana kemunafikan sehingga kita tidak memperjuangkan nilai-nilai formalitas dan legalistis iman kita melainkan menginternalisasikan kasih dan kebaikan yang menyelamatkan dan menghidupkan dalam penghayatan ajaran iman kita.

Yesus sama sekali tidak memberi ruang kepada kita untuk mengakui diri sebagai pengikut-Nya hanya sebatas suatu tindakan serimonial dan ritual-ritual semata. Bagi Yesus, tindakan serta pengalaman iman kita harus membuahkan kasih, kebaikian, kesucian dan kekudusan yang menyelamatkan.

Iman kita akan Kristus bukan suatu pernyataan formalitas dan legalitas melainkan suatu tindakan di mana setiap orang yang kita jumpai bisa berdiri dan berjalan meninggalkan hidup lama, kemudian mengulurkan tangan untuk dijamah oleh kasih dan kebaikan Allah melalui kita yang telah diselamatkan Tuhan.

Kita bukan berjalan bersama Tuhan dan setia pada  ajaran iman untuk mencari pembenaran diri dan menghakimi sesama. Kristus tidak meminta kita untuk melakukan kebaikan serta menjadi kudus agar orang lain direndahkan dan dipandang hina. Kekatolikan kita harus menopang, memamapah dan menolong  sesama untuk berdiri, berjalan serta mampu mengulurkan tangan pada Tuhan seraya meminta pertolongan Tuhan yang menyelamatkan. Amin.

(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangkaraya)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Penghapusan hukuman mati

Kita berdoa semoga hukuman mati yang melawan martabat manusia, secara resmi dapat dihapus di semua negara.

Ujud Gereja Indonesia: Menghindari ketergantungan pada gawai

Kita berdoa semoga dengan sadar kita semua menghindari ketergantungan pada gawai secara berlebihan.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s