Menjadi Kemah Suci Bagi KRISTUS – Belajar dari Kemartiran S. Agnes

Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa II, 21 Januari 2023
P. S. Agnes

Ibr. 9: 2-3,11-14; Mzm. 47:2-3,6-7,8-9; Mrk. 3:20-21; atau dr RUybs

Pembaca RenHar KKI yang terkasih: Shalom!

Pada hari ini kita menyatukan diri dengan Gereja, untuk merayakan Peringatan Wajib Santa Agnes yang mendapatkan dua mahkota saat wafatnya, yaitu sebagai perawan dan martir. Dan Firman Tuhan berbicara tentang “kemah suci” dengan Yesus Kristus sebagai “Imam Besar yang datang untuk hal-hal yang baik,” termasuk mengatasi kuasa roh-roh jahat dengan kuasa Roh Kudus-Nya (Markus 3:20-30).

Kemartiran: sebuah persembahan diri yang total

Tidak banyak informasi tentang kemartiran Santa Agnes, sang perawan dan martir Tuhan ini. Kemartirannya itu berlangsung sekitar tahun 288 pada saat Agnes berusia antara 12 atau 15 tahun. Agnes yang menjadi martir pada masa penganiayaan oleh Kaisar Dioklesianus ini, dimakamkan di kota Roma.

Kemartiran & kemah suci

Setelah menggambarkan Kemah Suci dengan tempat yang kudus di bagian depannya dan tempat yang maha kudus di bagian belakangnya, penulis Surat Ibrani kemudian mengangkat kemah suci yang duniawai itu menjadi gambaran untuk kemah suci yang jauh lebih besar dan sempurna, tempat di mana Yesus Kristus, Sang Imam Agung Perjanjian Baru, mempersembahkan darah-Nya sebagai korban, untuk menyucikan manusia dari dosa.

Demikianlah kemah suci memberikan dirinya untuk menjadi tempat pengorbanan Yesus Kristus, begitulah jiwa dan raga para martir diberikan seutuhnya kepada Yesus. Tidak ada ruang lain di dalam jiwa dan raga para martir itu untuk sesuatu yang lain, selain untuk Yesus seutuhnya! Dalam arti ini, jiwa-raga para martir itu adalah seperti kemah suci bagi Yesus dalam melaksanakan korban penyucian dosa bagi manusia.

Santa Agnes & kita!

Agnes lahir dalam keluarga Katolik yang mulia di Roma. Dia cantik, kaya dan hidup dalam kesucian. Banyak bangsawan muda ingin memperistri Agnes. Namun mata Agnes sudah terpaut pada Dia yang paling indah dari semuanya—Tuhan dan Juruselamatnya, Yesus Kristus. Agnes kemudian mendedikasikan dirinya kepada Yesus, untuk kemudian hidup sebagai perawan suci.

Namun, pemberian diri seperti itu tidak diterima dengan baik atau dipahami dengan baik oleh para pemuda pada masanya. Agnes dilaporkan ke penguasa lokal karena dirinya telah menjadi seorang Kristen. Laporan itu dimaksud untuk mencegahnya hidup sebagai perawan suci. Penguasa itu meminta Agnes untuk mempersembahkan korban kepada dewa-dewa Romawi. Agnes menolak. Ia teguh berpegang pada Kekasih ilahinya. Penguasa itu marah, dan memerintahkan supaya Agnes dibawa ke rumah bordil.

Penguasa setempat yang gagal mengubah Agnes kembali menjadi kafir, atau menajiskan tubuhnya, kemudian menghukumnya sampai mati dengan pemenggalan kepala. Agnes dengan gembira memberikan dirinya untuk dipenggal agar segera bertemu dengan Yesus, Mempelai Sorgawi-nya.

Dengan menjaga diri sedemikian rupa agar tetap hidup suci dan murni sebagai perawan sampai akhir, Agnes telah mempersembahkan dirinya seperti halnya sebuah kemah suci bagi Kristus.

Semoga kita yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan Juruselamat, semoga jiwa dan raga kitapun boleh menjadi kemah suci bagi Kristus. Amin!

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal:Para pendidik – Kita berdoa untuk para pendidik, semoga mereka menjadi saksi yang dapat dipercaya, mengajarkan persaudaraan daripada kompetisi dan membantu mereka yang paling muda dan rentan.

Ujud Gereja Indonesia:Optimisme dan harapan – Kita berdoa, semoga tahun baru menjadi saat rahmat, yang mendorong kita untuk optimis, percaya dan berharap, bahwa Roh Tuhan akan menuntun dan membuka mata kita untuk bisa melihat kesempatan, peluang dan jalan keluar dalam pelbagai kesulitan, masalah dan tantangan yang harus kita hadapi.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s