ROH KUDUS Mengubah Kita

Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Paskah II, 18 April 2023
P. S. Eleutherius

Kis. 4:32-37; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15

Dalam pekan kedua Paskah, Gereja mengajak kita untuk merefleksikan buah dari kebangkitan Kristus dalam hidup kita. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus. Untuk itu, kita diberi kuasa agar kesaksian kita itu berdaya guna dan mengubah.

St. Lukas dalam bacaan pertama menulis dengan penuh keyakinan bahwa, “Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah.” (Kis. 4:33) Bagaimana mereka dapat bersaksi tentang kebangkitan Tuhan dengan kuasa yang besar? Hanya dengan Roh Kudus para rasul dapat bersaksi dengan penuh keyakinan dan kuasa seperti itu. Inilah sebabnya dalam Injil, Yesus berbicara tentang perlunya dilahirkan kembali, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani.” (Yoh.3:5-6) Tanpa Roh Kudus, kesaksian kita tidak memiliki kekuatan apa pun.

Roh Kudus mampu menyentuh hati, mencerahkan pikiran dan mengubah hidup. Dia adalah kekuatan Tuhan. Yesus berkata kepada Nikodemus, “Janganlah heran karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” (Yoh. 3:7-8) Roh Kudus, seperti angin, berada di luar perhitungan manusia. Roh Kudus memiliki kedaulatan kebebasan dan kuasa Allah untuk bertindak kapan dan di mana Dia suka. Tidak ada yang bisa mengendalikan, mendahului, atau mendikte bagaimana Roh Kudus bekerja dalam hidup kita.

Apa peran Roh Kudus dalam pewartaan akan Tuhan yang bangkit? Pertama, Roh Kudus meyakinkan hati kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Dia menerangi pikiran kita untuk memahami siapa Kristus dan membawa kita kepada Yesus. Jika akal budi kita tidak diterangi, kita tidak akan memiliki keyakinan akan kebangkitan Kristus. Seperti dikatakan Yesus, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.” (Yoh. 3:13) Yesus adalah Pewahyu tentang siapa Allah itu.

Kedua, Roh Kudus memberdayakan para rasul untuk memberitakan Injil dengan kuasa. Mereka mampu meyakinkan pendengarnya dan menyentuh hati mereka karena Roh Kudus. Seperti yang dikisahkan dalam peristiwa pewartaan Petrus, “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?’” (Kis. 2:37) Hanya ketika Roh Kristus Yang Bangkit ada di dalam kita, barulah kita dapat bersaksi dengan kuasa dan keyakinan penuh atas kebangkitan-Nya, seperti yang dilakukan para rasul.

Ketiga, Roh Kudus memberdayakan para rasul untuk memberitakan Injil dengan penuh keberanian. Sebelum menerima Roh Kudus, mereka bersembunyi karena takut akan otoritas Yahudi yang menangkap mereka. Tetapi rasa takut itu hilang dan mereka berani bersaksi tentang Tuhan yang bangkit.

Keempat, Roh Kudus memberi kuasa kepada para rasul untuk melakukan apa yang Yesus lakukan, bahkan melakukan pekerjaan lebih besar daripada-Nya (Yoh. 14:12) Dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bagaimana Para Rasul dapat melakukan mukjizat sebagaimana dilakukan oleh Yesus (Kis. 5:13-16).

Yang paling utama adalah daya ubah Roh dalam hidup para rasul, untuk menjalani kehidupan tanpa pamrih dalam pelayanan kepada Tuhan dan umat-Nya. Sebelum kebangkitan, mereka mencari kekuasaan, kemuliaan dan kekayaan. Setelah berjumpa dengan Tuhan Yang Bangkit dan menerima Roh Kudus-Nya, mereka melepaskan diri mereka dari ikatan duniawi dan hidup hanya untuk Kristus. Kesaksian hidup para rasul yang baru ini menginspirasi banyak orang. Mereka menjual apa yang mereka miliki dan mempersembahkannya kepada para rasul demi pelayanan mereka, bahkan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Bagaimana dengan kita? Jika kita ingin menjadi saksi Kebangkitan Tuhan yang benar dan efektif, kita harus melakukan hal yang sama. Mulai dengan menyerahkan diri kita dalam iman akan Tuhan yang bangkit! “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:14-15)Dengan merenungkan sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, kita akan mencapai kesadaran kita dalam iman dan ketaatan kepada Kristus. Iman kepada Kristus adalah pintu gerbang penerimaan Roh Kudus yang kita terima dalam baptisan. Dan syarat untuk menerima Roh Kudus adalah ketaatan kepada Tuhan (Kis 2:38).

Akhirnya, untuk mewartakan kebangkitan Tuhan dengan kuasa, kita perlu tetap bersatu dengan komunitas Kristiani seperti yang dilakukan umat Kristen perdana. Para rasul rela menyerahkan hidup mereka demi Injil. Mereka semua bersaksi tentang kebangkitan dengan kuasa yang besar, bukan karena kefasihan mereka tetapi karena mereka yakin dan penuh gairah mewartakan apa yang mereka ketahui. Mereka siap menyerahkan hidup mereka untuk Injil. Bagi kita, hanya mereka yang dilahirkan dalam Roh yang mau menyerahkan segalanya untuk Kristus!

(RP. Joseph Gabriel, CSsR – Studentat Redemptoris, Yogyakarta)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Budaya perdamaian dan tindak non-kekerasan – Kita berdoa, semoga makin subur dan berkembanglah kedamaian dan budaya non kekerasan, yang dibarengi dengan upaya mengurangi penggunaan senjata baik oleh negara-negara maupun warganya.

Ujud Gereja Indonesia: Kepercayaan diri kaum muda – Kita berdoa, semoga kaum muda sadar, bahwa keasyikannya dengan dunia digital dan fasilitas online bisa membuat mereka terisolasi dalam dunianya sendiri; semoga mereka dianugerahi keberanian untuk menemukan kembali rasa percaya diri dan kemauan untuk memperluas relasi dan pergaulannya juga di dunia offline.

 Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s